“Anj****”
Kubanting tasku ke atas kasur sambil kuteriakan kata-kata makian khasku.
-5 menit sebelumnya-
“Gw emang gk sejago kalian dalam masalah tugas ini, tapi apa-apaan kalian nyoret nama gw dari kelompok?” teriakku
“Maaf El, kami gak bisa nerusin kerja kelompok ini. Mending kamu cari kelompok lain”
“What The?? Ok fine.. lo liat aja ntar..” kataku sambil ninggalin mereka
—–
Bulan ini memasuki bulan-bulan yang kuharapkan menjadi bulan terakhirku di negara yang dingin ini. Aku ingin segera lulus dan pulang ke Indonesia, kepalaku sudah penat dengan orang-orang asing ini. Satu-satunya yang membuatku agak betah disini adalah Michelle, seorang wanita campuran Indo-Jerman yang telah menjadi teman dekatku selama kurang lebih 6 bulan.
“whats up beb?” kata suara diujung telpon.
“its nothing, I just want to call You beb..”
Walaupun kami cuma teman, kami udah terbiasa manggil satu dengan yang lain beb, awalnya dari becanda eh keterusan.
“Kamu abis berantem ya?”
‘Wow this women have one great sense’ pikirku
“Enggak kok beb, kamu lagi ngapain” jawabku mengalihkan
“Enggak lagi ngapa-ngapain cuma lagi nonton aja, kenapa? Mau ketemuan?”
“hmm, pengen sih tapi gimana kalo besok aja. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke louvre, aku mo ngilangin penatku.”
“ok, see you tomorrow” katanya mengakhiri pembicaraan.
*****
“look at that pyramid, what a beauty” katanya sambil menunjuk pyramid di depan museum.
“its beautiful, just like You” godaku
Dia tersenyum lebar, senyuman itu yang membuat ku betah berteman dengannya. Sebenarnya 6 bulan yang lalu niatku adalah memacarinya, setelah aku dan dia bertemu dalam satu kelas di kampusku. Tapi ternyata dia lesbian, dia bahkan mempertemukan aku dengan ‘pasangan’nya. Tapi setelah aku tau, aku malah dekat dengannya, bukan sebagai pacar tapi sebagai best friend. Tidak mudah memang seorang cowo punya best friend cewe. Tapi dengan status dia yang lesbi, semuanya jadi mudah. Kuceritakan semua masalahku dan masa laluku dengan Griska, dan Elisa. Dia pun menjadi pendengar yang baik, dan mampu memberikan nasehat yang kreatif. Unlike my Sisters, kadang-kadang iya memberikan nasehat-nasehat yang berlawanan dengan apa yang kuharapkan.
“So what is it this time?” tanyanya
“teman-teman kelasku, songong banget! Masa..”
Dan kuceritakan panjang lebar kejadian kemarin..
“Kok gak kamu tonjok?” tanyanya dengan heran
Ini yang aku suka tentang dia, kalau kakak-kakakku nasehatnya dapat kutebak,
“Ya sudahlah kamu cari aja kelompok lain” kira-kira begitu kalo nasehat std dari kak Agni
Kami habiskan waktu di louvre, sampai akhirnya menjelang sore kami pun naik cab kembali ke bandara untuk kembali ke Offenburg.
*****
“Kriiing” suara bel pintu kostku
“wait a minute!” teriakku sambil berjalan ke arah pintu
Kubuka pintu ternyata yang datang adalah Sherly, Pasangan Michelle.
“Hai Elmo..” sapanya
“Hai Sher, tumben kamu kesini sendiri. Eh minggu kemaren aku ngajak Michelle ke Paris, maaf ya gk bilang-bilang kamu. Kamu gk marah kan?” kataku sambil menutup pintu kost dan menuju ke arah dapur untuk membuatkannya segelas cokelat panas.
“Hmm..” jawabnya pendek
Aku udah mulai mencium sesuatu yang aneh, wajahnya murung. Kutaruh 2 gelas cokelat panas di meja tamu, sambil duduk disamping Sherly.
“Ada apa Sher? Kamu murung banget kayaknya..”
“Elmo, aku mohon maaf sebelumnya. Michelle gak tau sama sekali aku kesini. Aku mo ngasih tau sesuatu”
“mmm” Aku terdiam setengah bergumam
“Michelle sebenernya bukan lesbi, aku dan dia teman dekat sejak kami di kindergarten. Dia memintaku untuk berpura-pura menjadi pasangan lesbinya.
“Kenapa?” kataku
“Sewaktu kamu sudah menunjukkan tanda-tanda PDKT sama dia, dia ragu apakah kamu benar-benar menyukainya atau sekedar main-main. Jadi dia putuskan untuk ngetes kamu selama 2 minggu dengan cara berpura-pura menjadi lesbian”
“2 Minggu??” tanyaku bingung
“Ya, 5 setengah bulan yang lalu seharusnya kamu sudah tau bahwa Michelle bukan lesbi dan dia juga menyukaimu.”
Aku mengerutkan dahi tambah bingung.
“Sehari sebelum dia berniat memberi tahu kamu yang sebenarnya, dia divonis cancer. Dia memutuskan untuk menutupi yang sebenarnya darimu. Dia tidak mau menyakitimu ketika Dia harus meninggalkanmu sebagai pasangan. Sehingga dia memutuskan untuk menjadi sahabatmu”
“Why are You telling me this now?” tanyaku dengan suara parau terpendam
“Karena aku udah gak kuat nyimpen rahasia ini El, tiap hari yang aku denger dari mulutnya cuma kamu, kamu dan kamu. Dia sangat mencintaimu El, itu kenapa dia gak mau kamu tau tentang sakitnya”
Aku terdiam, selama ini aku sudah tertipu. Oh Michelle what are You doing? I know deep in my heart You are not just a friend, not just a best friend, but someone I love.
Aku berdiri, mengambil jaketku dan kulari sekencang-kencanyanya menuju rumah Michelle.
Sepanjang perjalanan kurasakan rasa rindu sejadi-jadinya. Aku enggak tau apa yang terjadi esok, lusa bahkan tahun depan. Tapi yang pasti hari ini akan kupeluk dan kucium Michelle, dan kuberitahukan kepadanya betapa aku mencintainya.

Recent Comments