Dinginnya Offenburg

24 10 2011

Namaku Elmo, aku adalah mahasiswa tingkat akhir S2 FH. Offenburg. Selulus kuliah S1 kuhabiskan hidupku dalam kerasnya dunia kerja di Jakarta, sampai suatu hari aku tau tentang beasiswa dari DAAD.  Perjalanan kuliahku terbilang biasa-biasa saja hanya ada 2 hal yang mengganjal di hatiku, tepatnya 2 wanita. Griska, wanita yang meninggalkanku sewaktu aku kuliah S1 untuk pergi bersama tunangannya yang dengan kebetulan satu negara dengan aku tinggal sekarang. Elisa, teman kerjaku sewaktu di Jakarta dulu yang 2 tahun yang lalu menyusulku ke kota ini untuk menyatakan cinta padaku.

Sejujurnya aku sudah memikirkan untuk mencari Griska semenjak aku di Jakarta dulu, tapi sesampainya disini apalagi semenjak kejadian dengan Elisa, Keinginan itu semakin menghilang dan menghilang, sampai kemarin…

Aku sedang di Tchibo, tempat yang unik menurutku. Toko ini adalah tempat menjual biji kopi, tapi aku sengaja kesini untuk membeli payung. Aneh memang.. tapi payung-payung di sini adalah payung terbaik buatan asli negeri ini, dijamin sanggup menghadapi badai salju sekalipun. Pertama kali aku sampai di kota ini, aku diguyur hujan. Kubuka payungku yang kubawa dari Jakarta, rangka besinya langsung amburadul, tak mampu menghadapi ganasnya cuaca eropa.

Ketika aku sedang di depan kasir, tiba-tiba masuk sesosok wajah yang kukenal, Griska. Kami saling tatap seolah tak percaya.

      “Elmoooo??” sapanya sambil sedikit shock karena telah bertemu denganku di sini.

      “Hai Griska..” kataku sambil sedikit stay cool.

      “Kapan kamu ke Jerman???”

      “Aku sudah hampir 2 tahun di sini Gris..” sahutku.

      “Wow, I have no idea..”

      “Gimana kamu sehat…” kulancarkan sedikit basa-basi.

      “Ya, Begitulah.. You should come to my house El..” katanya.

      “Memang dimana rumahmu?”

Lalu disebutkannya alamat rumahnya yang ternyata tidak terlalu jauh dari tempat kosku.

      “Kapan-kapan main ya..”

      “Ok, sampai jumpa lagi..” kataku sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.

Tiba-tiba ia memelukku, “I’m glad you alright El..” katanya sambil menggosok-gosok punggungku, entah apa maksudnya.

*****

Sudah 3 hari sejak aku dipertemukan kembali dengan Griska, ada banyak pertanyaan yang memutar di kepalaku.. ‘Kenapa dia tinggal di Offenburg bukan di Duisburg?’, ‘Apa yang terjadi dengan dia dan tunangannya?’, ‘kenapa dia sekarang begitu berbeda dengan Griska yang kukenal sewaktu di kuliah dulu?’, dan ‘Kenapa dia memelukku?’.

Akhirnya kuputuskan untuk menelpon kakakku yang paling tua, Kak Agni. Ia sekarang tinggal di New York, seorang balerina profesional. Setelah ayahku meninggal dialah yang paling sering menasehatiku, walaupun ke 3 kakakku yang lain juga rajin memberikanku nasehat. Tapi biasanya untuk masalah wanita Kak Agnilah yang nasehatnya paling tokcer.

      “Halo” Sapa suara di seberang line telepon.

      “Halo Kak..”

      “Elmooo??! Heh kemana aja kamu udah 1 bulan gak nelpon kakak! Mau kakak samperin kesitu terus kakak jitakin?!”

      “Hehehehehe, I love You kak..”

      “Huh, I love You.. I love You.. kalo udah begini pasti ada maunya..”

      “Kak.. Aku ketemu Griska disini..”

      “HAAAAAH??!! Bukannya udah kakak bilang jangan pernah ke Duisburg!!!”

      “enggak kaaaak, aku gak ke Duisburg.. aku ketemu dia di sini, aku gak tau kenapa dia bisa tinggal disini.”

Lalu kuceritakan panjang lebar tentang kejadian 3 hari yang lalu.

      “Hmm.. Jangan! Jangan pernah sekalipun kamu coba-coba kerumahnya de’.. Inget apa yang dia lakukan ke kamu dulu! Wanita itu berbahaya de’..”

      “Iya kak, aku juga mikirnya begitu.. Kakak gimana, sehat?”

      “Kamu baru nanyain itu sekarang? Basi!”

      “hehehe, I miss You kak, I really am

      I miss You too de’..” sahutnya.

      “Kalo aku wisuda nanti kakak pasti dateng kan?”

      “Pake tanya lagi.. Semua kakakmu pasti dateng, cepetan lulus. Bikin ayah dan ibu di alam sana bangga”

      “Iya kak..”

*****

Hari ini kulakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan, aku ke rumah Griska. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya ucapan kakakku berteriak di kepalaku. “Jangan! Jangan!” begitu katanya. Tapi entah kenapa kaki ini terus melangkah menuju alamat yang Griska sebutkan sewaktu di Tchibo.

Kuhentikan langkahku sejarak 3 rumah dari rumahnya, ku termenung, memikirkan semua yang kualami selama ini.

Tiba-tiba kulihat dari jauh, pintu rumahnya terbuka. Seorang laki-laki, yang kutebak pasti orang Indonesia karena wajahnya yang begitu melayu, keluar dari pintu. Lalu seseorang mengikutinya dari belakang, kulihat wajahnya. Ia adalah Griska.

Mereka berdua lalu saling berpelukan, dan berciuman di tengah-tengah turunnya salju, sejenak mengingatkanku pada adegan romantis film-film hollywood.

Di udara yang dingin menusuk ini, mukaku terasa panas seakan-akan ada api unggun yang letaknya 5 centi dari mukaku.

Dalam hati kecilku ingin rasanya aku lari kesitu dan menginjak-injak pria yang telah berciuman dengan Griska. Tapi akal sehatku melarangnya.

Aku berbalik arah, mengurungkan niatku menemui Griska. Ternyata setelah bertahun-tahun semuanya tetap sama, dia tetap menyakiti hatiku.

Ku berjalan di tangah turunnya salju, memakai sepatu boots dengan entah berapa lapis kaos kaki. Dilapisi Jaket yang tebalnya seperti burger ini, badanku terjaga tetap hangat. Hatiku pelan-pelan mulai mendingin, sedingin es yang ada di pohon-pohon yang aku lewati.

Di dingin ini, rasa kangenku mulai menyelimuti. Kangenku pada kota Jakarta yang panas, kangenku pada kakak-kakakku yang tersebar di penjuru dunia ini, kangenku pada ayahku yang sudah tidak ada di dunia ini, kangenku pada ibuku yang tidak pernah kukenal, dan entah kenapa ada rasa kangen juga terhadap seorang wanita di Jakarta sana.

Sesampainya didepan pintu kosku, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang. Setelah kubalikkan badanku, kulihat seseorang yang memakai jaket pink tebal bertudung, dengan bulu-bulu diujung tudungnya.Wajah yang sangat kukenal, wajah yang kurindukan. Wajahnya tersenyum dengan manisnya, yang dengan sekejap membuatku melupakan Griska. Mungkin untuk selama-lamanya


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.