ATMA¬¬¬¬¬¬¬¬
by: Eleph | @eLephhh
D
i bulan yang dekat penghujung tahun ini, hujan turun dengan rajin dan telaten. Seakan-akan tiada hari esok, hari demi hari lewat dengan tumpahan air dari angkasa. Bahkan saat ini pun, hujan rintik-rintik sedang mengiringi keberadaan kami, seakan-akan langit sedang bersedih. Kulihat wajah-wajah di sekitarku, semuanya sendu, sesendu awan yang entah kapan mau berhenti menangis.
Ayahku, sungguh pria luar biasa. Di tengah kesedihan, Ia tetap berdiri tegak. Tak dibiarkannya kesedihan menguasai dirinya. Ia menjadi orang yang paling tegar. Ia adalah incaran pelukan ibuku. Ia tau di saat seperti ini Ia tidak boleh memperlihatkan emosi yang berlebihan. Sebagai pemimpin keluarga, sudah tugasnya menjadi orang yang bisa memberikan ketenangan pada anggota keluarga yang lain. Sejak aku kecil, Ayahlah yang menjadi panutan aku dan kakakku. Ia adalah tipikal orang yang tak banyak bicara, tapi ketika berbicara, rumah menjadi hening, menikmati tiap kata yang Ia ucapkan. Wejangan-wejangan yang Ia berikan bukan hanya dengan kata, melainkan juga dengan contoh.
Sosok Ayah sebagai CEO sebuah perusahaan besar di Indonesia termasuk bersahaja. Sampai sekarang tidak mau pakai sopir, berangkat kerja dengan mobil dinas yang menurutku sudah terlalu tua untuk kelas CEO. Pakaian yang Ia pakai pun cuma kemeja batik merek lokal dengan sebuah pulpen pilot biasa di kantongnya. Semua yang Ia pakai di badannya produk lokal, ‘Produk kita gak kalah kok dengan produk luar’ begitu jawabnya kalau ada yang protes dengan gaya berpakaiannya. Kesederhanaan itu yang membuat aku dan kakakku tidak biasa hidup bermewah-mewah. Aku dan kakakku sudah terbiasa naik angkot atau motor bebek, tapi kalau butuh bawa mobil. Tidak aneh makan di warteg atau pecel lele pinggir jalan, walau kadang-kadang makan di resto.
Ibuku adalah wanita serba bisa, dari masak, menjahit, potong rambut. Semuanya bukan sekedar belajar sendiri, tapi ada ijazah kursusnya. Beberapa kali, terutama saat kubutuh dokumen-dokumenku. Tanpa sengaja kulihat juga dokumen ayah dan ibu. Ibu lulusan SMP, tapi dari Ijazah kursus menjahit, Ijazah kursus salon sampai ijazah kursus membuat kue semua ada. Itulah kenapa aku tidak pernah ke salon untuk memotong rambut, atau ke penjahit untuk buat celana. Ibuku yang mengurus semua kebutuhanku itu, ‘daripada gak ada kerjaan’, begitu katanya. Selain keserba-bisaannya itu Ia juga termasuk orang tua yang sabar, apalagi menghadapi kenakalan kedua anaknya. Sejak kami kecil ibu mengajarkan kami tentang kejujuran, yang pada penghujung 2011 ini sudah menjadi sesuatu yang langka.
Kakak, my partner in crime. Dia adalah orang yang paling tau rahasia-rahasiaku, pacar-pacarku, kebandelan-kebandelanku. Ia yang pertama kali mergoki aku merokok, ‘Elu mo ngerokok gak papa, yang penting nilai sekolah harus tetep bagus. Tapi kalo sekali aja gue denger lo pake drugs, gue gantung lo di taman lawang’ ancaman itu setengah bikin takut tapi juga bikin ketawa, kenapa juga harus di taman lawang?
Beberapa kali kakak menyelamatkanku ketika aku terlibat masalah-masalah yang tidak pantas aku ceritakan pada orang tuaku, beberapa kali juga kakak menerima umpatan dari orang gara-gara aku. Tapi itu semua tidak membuat Ia berhenti menyayangiku. Kami berdua sangat suka bola. Aku ingat sekali kami sama-sama nonton piala AFF, sampai pertandingan bola di SEA Games tidak pernah kami lewatkan selain di stadion GBK. Padahal dia baru nikah sebelas november kemarin, bukannya bulan madu di bali, malah bela-belain nonton bola. Untungnya istrinya juga gila bola, jadilah kami berempat termasuk pacarku Novi nonton bola bersama.
Kakak iparku, jujur aku belum terlalu mengenalnya. Tapi dari tatapannya kulihat Ia sangat mencintai kakakku, kurasa tak perlu kuragukan lagi, mereka akan menjadi pasangan yang bahagia. Saat mata mereka bertemu dapat kurasakan kebahagiaan yang ada di keduanya.
Novi, Kalau saja bisa, mungkin akan kunikahi sekarang juga. Tak ada lagi wanita seperti dia, matanya elips sempurna seperti bentuk bulan sebelum purnama. Wajahnya yang jarang bertemu dengan kosmetik justru menampilkan kecantikan yang luar biasa. Dan terlebih lagi sifatnya, yang mampu memberikanku rasa percaya diri saat aku sedang down, mengerti aku, melengkapiku. Rasanya saat melihatnya, aku tak ingin mengubah satupun yang ada pada dirinya.
Seiring meredanya hujan, kulihat wajah-wajah sendu mereka di bawah payung-payung hitam itu. Lalu kulihat nisan yang mereka kelilingi, ada namaku disitu.
Desain sampul: ‘Lagu Pilihan’ buku 2
Desain sampul buku ‘SALAH’ buku 2
Sampul depan buku ‘Terpana’ buku 1:
Recent Comments